Storiette: Dear Jingga,

Hi again. It’s been a (very long) year since my last ‘hi’, that you haven’t replied until weeks ago, when your letter came. I stopped at my 5th ‘hi’ that time. It’s not that I gave up on you, or I turned to ignore you. I didn’t. I don’t. I just thought that maybe giving spaces between us two was the best choice, though it’s never been an easy decision I’ve ever made. But I knew, we both agreed.

Like flowers with their life cycle, we have our own as well. The time to grow, to blossom, to fall. Then grow again, blossom, and fall again. It happens that way, not because they don’t want to be blossomed over time. They know that each stage is better to be that way, for the sake of their own beings.
Just like us.

Above all the circumtances, thanks Jingga, for still believing in us.



                                                                                                           Yours,
                                                                                                               L



P.S. : Please flip this (pretend to be a) postcard. I know maybe you have looked at it once you opened the envelope, but, just do it again, will you? :)

image

Read More

Terima Kasih Dinda!

“To Ming Se dong.”

Kata saya datar. Hari itu adalah minggu kedua atau ketiga (maaf ga inget persisnya) saya kuliah di ITB. Mahasiswa baru, masih lugu dan lucu. Saat itu saya dan teman-teman sekelas sedang menunggu ruang kelas yang masih dipakai. Di pinggir pintu kelas berjejer tempat duduk yang sudah hampir penuh. Saya menghampiri kursi yang diduduki oleh teman-teman. Masih ada celah untuk duduk. Lalu saya berkata datar, menyebut salah satu personel F4 yang amat beken pada jamannya. “TOlong MINGgir SEdikit.” terang saya kemudian. Dinda, yang saya ajak bicara, tadinya melongo. Namun tetiba tertawa terpingkal-pingkal setelah menyadari akronimnya. Saya cengengesan aja.

Sesungguhnya saya lupa sejak kapan kita mulai jadi partner in crime. Tapi mungkin momen itu menjadi saat kita menyadari kalo selera humor kita meskipun aneh tapi nyambung. Terima kasih Tong Fang To Ming Se!

Oh ya, itu cerita minggu kedua atau ketiga. Minggu pertama? Setelah selesai kuliah di sore hari, saya sakit perut hebat. Jalan pun sambil merunduk, seperti padi yang berisi. Dinda, yang kebetulan duduk di sebelah saya di kelas, kemudian menemani saya jalan ke gerbang depan, bertiga bareng Mita. Kami tanya ke satpam, katanya puskesmas kampus sudah tutup. Saya masih berdiri sambil merunduk memegangi perut, mengerenyit menahan sakit. Lalu pak satpam menawarkan tawaran yang mungkin tidak semua orang bisa mendapatkannya: diantar ke puskesmas lain naik ambulans kampus, karena, yah maba, tidak cukup tau puskesmas lain yang terdekat itu di mana. Kami bertiga sempat terbengong-bengong, saling menatap satu sama lain dengan bingung. Sebetulnya kalo bisa saya mau tertawa terbahak-bahak karena entah bagaimana ini terlihat konyol. Tapi sakit perut saya gigih sekali mengalihkan pikiran untuk tertawa saat itu. Dalam ambulans, kami tertawa bingung. Kalo tawa itu bisa dibuat jadi narasi, kira-kira bunyinya begini: wahahaha, seriusan nih kita naik ambulans kampus? Ya, kami memang anak maba yang lugu dan lucu.

Sesampai di puskesmas, tetiba Dinda tertawa geli. Saya bingung. Mita juga bingung. Setelah tenang, Dinda menunjuk papan di atas puskesmas: YPAC (Yayasan Pembinaan Anak Cacat). Saya tercenung. Lalu meringis lagi kesakitan sambil menahan tawa.  Duh Gusti, saya kan cuma sakit perut, kok dibawanya ke sini… Ya begitulah. Meskipun papannya berkata demikian, papan di sebelahnya bertuliskan Puskesmas, kok. Cuma memang tulisannya kalah besar.

Ternyata takdir pung mendukung. Saya dan Dinda menjadi teman sekelas selama tahun pertama. Dan cerita di atas bisa jadi gambaran gimana hari-hari kita diisi. Kadang menganggap lucu apa yang orang lain bilang itu biasa. Kadang orang menganggap kita lucu (istilah bahasa inggrisnya sih loveable, eh, laughable) padahal kita merasa biasa aja. Ga deng, kita seringnya sih ngetawain diri sendiri, hik.

Dinda jarang mengucapkan selamat ulang tahun. Bukan karena ia lupa. Ia punya caranya sendiri, waktunya sendiri. Bahkan dia bilang, “Aku ga ngucapin sekarang ya Dinar. Nanti tunggu aja.” Saya sendiri sampai lupa kalo Dinda belum mengucapkan, sampai tahun berikutnya saya ulang taun lagi, dan mungkin taun berikutnya saya ulang taun lagi. Eh, atau saya lupa kalo Dinda udah ngucapin? :v
*sesungguhnya aku ini teman macam apa, hiks *sambil ngosek-ngosek WC

Di tahun terakhir kuliah ini, Dinda membayar apa yang katanya hutang-hutangnya. Yang saya paling suka, semuanya buatan sendiri :)

image

Jadi kalo ada yang melanggar UDGL (Urban Design Guidelines) akan saya datangi pake wreckin’ ball. Penanggalan di Bulan Juli beda sendiri, dibuat begitu biar saya inget ulang taunnya, he! Cerdik sekali kau nak.

image

Tau gimana caranya Dinda ngasih ini? Rasanya saya kayak punya pacar. Hadiah ini tiba-tiba ada di depan pintu kamar kosan, lengkap dengan bunga aster warna kuning. Hyeuheyheuehueheuyheuheuheuheu :”“3 (part 1)

Dan ternyata di balik bingkai ini, ditempel selembar uang biru: wah, 50 ribu! Oh iya deng, dia waktu itu utang, karena dengan randomnya beli buku Dilan-nya Pidi Baiq pas CFD tapi ga bawa duit. Dunia kita memang penuh kerandoman dan wacana.

image

Dikasih bunga lagi! Filosofi bunganya aja udah kece, bunga abadi.
Hyeuheyheuehueheuyheuheuheuheu :”“3 (part 2)

Terima kasih Dinda!

Maaf ya belum ngasih sesuatu yang cimpi-cimpi gitu.
Bbbuuut, can I count this as cicilan pertama? :”>

Sisa

image

Buat kamu?
Foto diambil di Gedung Gas Negara, Jalan Braga, Bandung.

Seringkali kita hanya menyediakan yang sisa-sisa untuk Allah. Tau apa itu sisa? Kalau sempat, kalau lagi ada. Solat di waktu-waktu sisa, infaq dengan uang sisa, baca Al-Qu’ran kalau lagi sempat, kalo inget aja. 

Padahal konsep ibadah bukan seperti itu. Kita diminta menyegerakan solat. Infaq itu bukan dengan uang receh yang kebetulan ada di dompet, tetapi seberapa besar kita berencana untuk ikhlas merelakan rezeki yang tak semuanya berhak kita miliki itu, berapa pun rezeki kita. Baca Al-Qur’an pun demikian. Bukan kalau sempat, melainkan seberapa besar usaha kita untuk tetap istiqomah menyediakan waktu.

Ibadah itu soal komitmen. Jangan menyediakan yang sisa-sisa untuk Allah, padahal rahmat-Nya amat luas. Kita juga ga mau kan dikasih yang sisa-sisa sama Allah?

-Pada suatu ceramah

*termehek-mehek di pojokan

Ruang Agama dalam Logika

image

"Which direction would you go?"
Photo taken in Kota Baru Parahyangan, Kab.Bandung Barat.



Beberapa waktu lalu saya mendatangi seorang teman untuk membicarakan sebuah wacana (sebut saja agenda magis), yang didasari oleh kegelisahan kami yang ternyata sama. Seperti biasa, ia selalu menemukan waktu-waktu fokusnya pada sebuah kafe kopi lokal yang memang sangat nyaman. Lantas saya menyusul ke kafe tersebut. Sebut saja teman saya ini Wanda, dan panggil aja Ann (oke ini jauh banget, tapi gapapa biar gampang). Ada temannya juga, sebut aja namanya Ema, panggil aja Em.

Setelah rampung membicarakan tentang agenda magis, kami kemudian membicarakan tentang apa saja. Saya yang tadinya menenggelamkan diri dalam notula diskusi, tiba-tiba menyambar diskusi Ann dan Em dengan isu baru: kolom agama di KTP. Ann, yang bukan muslim, bilang bahwa ia setuju dengan wacana itu. “Kamu mungkin ga tau rasanya jadi minoritas itu gimana.” Katanya dengan menyertakan kata “maaf sebelumnya”.
“Emang ngaruh banget ya, Ann?” tanya saya polos.
“Iya.” Jawabnya lalu disertai beberapa contoh umum.

 
Saya termenung sebentar, mengambil jeda untuk berpikir. Lalu saya mengambil KTP dari dalam tas dan memandanginya lamat-lamat.

Read More

Hati-Hati di Jakarta

image

Lalu Lalang
Foto diambil di suatu tempat di Jakarta.


Jakarta itu keras.
Ungkapan yang semua orang sepertinya sudah tahu. Sudah paham. Atau sudah maklum. Saya sendiri sudah mencicipi kerasnya Jakarta. Mulai dari terik yang menyengat, debu dan asap jalanan, seradak seruduk kendaraan yang saling tak mau mengalah, perebutan kursi di jabatan kantor maupun tempat duduk di angkutan publik, kejahatan kriminal, dan lain sebagainya. Semua orang diburu oleh waktu, diburu oleh kepentingannya sendiri-sendiri. Ramai, tapi begitu bisu. 

Saya yang mengalami itu semua menjadi skeptis. Apakah ada orang Jakarta yang masih menyisakan hatinya untuk orang lain? Karena rasanya ruang-ruang itu sudah habis untuk melapangkan hati sendiri, ketika mengahadapi realita demikian hampir setiap hari. Sehingga memberi sedikit ruang untuk orang lain adalah tantangan bagi penduduk Jakarta. Tak terkecuali bagi saya.

Di tengah keraguan itu, Tuhan menunjukkan hati-hati (bentuk plural dari kata hati) di Jakarta yang terselip. Seperti seorang nenek yang mengusap keringat cucunya yang balita di dalam sauna bernama Metro Mini. Seperti murid-murid yang menyapa dan menyalami gurunya dengan senyum ala iklan odol ketika berpapasan di jalan. Seperti supir angkutan umum yang membantu turun penumpangnya yang sudah kelewat sepuh. Seperti ucapan terima kasih disertai senyum dari penumpang angkot sembari menyerahkan ongkos. Dan seperti-seperti yang lain yang mungkin luput saya saksikan.

Suatu ketika saya pernah mencoba memberikan hati itu pada Jakartans. Saya jadi sadar, bahwa memberi justru akan melapangkan hatimu, bukan malah menyempitkannya. Juga sebaliknya, menyimpan hati untuk sendiri akan menyempitkannya.Tapi jangan disangka berbuat baik itu mudah. Di jaman yang edan ini berbuat baik bisa dicurigai mentah-mentah. Tidak salah, karena sudah ada banyak korban penipuan atau hipnotis yang kena jarah. Hati-hati (waspada) di Jakarta. Lantas, apa itu menjadi alasan untuk tetap tidak peduli? Alih-alih kembali menyumpal telinga dengan headset atau memaku pandangan pada gadget di tengah kerumunan?

Bila engkau baik hati, bisa saja orang lain menuduhmu punya pamrih ;
tapi bagaimanapun, berbaik hatilah.

Bila engkau jujur dan terbuka, mungkin saja orang lain akan menipumu;
tapi bagaimanapun, jujur dan terbukalah.

Bila engkau mendapat ketenangan dan kebahagiaan, mungkin saja orang lain jadi iri;
tapi bagaimanapun, berbahagialah.

Bila engkau sukses, engkau akan mendapat beberapa teman palsu, dan beberapa sahabat sejati;
tapi bagaimanapun, jadilah sukses.

Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun mungkin saja dihancurkan orang lain hanya
dalam semalam; tapi bagaimanapun, bangunlah.

Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin saja besok sudah dilupakan orang;
tapi bagaimanapun, berbuat baiklah.

Bagaimanapun, berikan yang terbaik dari dirimu.

Pada akhirnya, engkau akan tahu bahwa ini adalah urusan antara engkau dan Tuhanmu,
Bukan urusan antara engkau dan mereka.

(Teresa/Pemenang Nobel Perdamaian 1979)

Mata-mata gang. Yang kiri bergaya retro, yang kanan kembar siam.
Foto diambil di gang-gang Kanayakan, Bandung.

"The freedom to make and remake our cities and ourselves is, I want to argue, one of the most precious yet most neglected of our human rights".

David Harvey

Dekorasi jalanan ga harus susah. Yang penting ada pesannya, fungsinya, atau minimal bisa membuat orang senyum. Kalo ga salah namanya pake fun theory. Kalo foto di atas sih cuma ngasal dan iseng. Versi gaulnya bisa dilihat di sini.

Dan saya senang Bandung sebentar lagi juga punya. Seperti halte alun-alun bandung dan tempat sampah ini.

Gula-Gula Kota

Cities, like dreams, are made of desires and fears, even if the thread of their discourse is secret, their rules are absurd, their perspectives deceitful, and everything conceals something else.
— Italo Calvino


Kota yang mungkin sangat identik dengan modernitas dan gaya hidup ala kaum borjuis (dalam Bahasa Perancis, borjuis berarti penghuni kota) menjadi semakin diburu oleh orang-orang kebanyakan. Saya sendiri menjadi tak yakin faktor pekerjaan menjadi alasan terkuat bagi mereka untuk ingin tinggal di kota. Karena sebenarnya pun, pedesaan ingin berlomba-lomba menjadi kota.

 image

Into That Blue
Foto diambil di Jalan Sudirman, Jakarta.

Read More

Bersua Juga

Beberapa minggu lalu saya pergi ke bandara. Bukan untuk mengejar pesawat yang akan membawa saya ke belahan dunia yang lain. Well, saya amat merindukan perjalanan, terlebih ke tempat yang jauh sampai-sampai saya harus menjangkaunya dengan pesawat. 

Hari itu hari Minggu, lebaran baru saja dirayakan Senin lalu. Jakarta masih sepi, seperti Madiun yang ramai saat lebaran tiba. Saya baru saja sampai rumah setelah menempuh perjalanan 27 jam dengan mobil. Jam di rumah menunjukkan pukul 10 pagi. Pukul 2 atau 3 siang, saya harus bergegas ke bandara.

Saya tiba di terminal 2, tempat pesawat-pesawat dari maskapai internasional diparkirkan. Teman saya sudah menyelesaikan urusan perkoperannya, katanya. Maka ketika saya turun, saya langsung menelpon nomor sementaranya, nomor yang ia gunakan selama ia berada di Indonesia. Di akhir percakapan tentang aku di sini, kamu dimana?, ia bilang, “Oh, aku ngeliat kamu.” Saya memutarkan badan, mencoba mencari dari sudut mana ia akan datang.

“Meily!” kata saya setengah teriak. Entah sudah berapa tahun kami tidak bertemu. Setelah saya tinggal di Jakarta, kami pernah bertemu satu kali. Dan kami belum bertemu lagi setelah ia tinggal di Belanda. Saat itu Meily sedang transit di Bandara Soekarno-Hatta. Hanya 4 jam, dan itu kesempatan untuk kami bertemu.

Read More

Judul lagu ini Where Is The Love. Bukan, saya bukan mengepost ini karena sedang mencari cinta. Tapi dipikir-pikir bener juga sih, dibuat jadi bertanya-tanya sendiri, dimana itu cinta?
(liat liriknya dulu ya biar ga salah paham, eheh)

Kalau saya tidak salah ingat, lagu ini populer waktu jaman-jamannya invasi si Om Sam ke salah satu negara yang mata uangnya pake nama saya. Yah, ternyata kondisi kaya begitu masih kejadian aja sekarang, dengan bentuk yang berbeda, meskipun sepertinya dalangnya juga sama. Makanya saya pengen sekali-kali ngopi bareng Snowden.

Saya pernah kepo berita dua “kecelakaan” pesawat dari maskapai tetangga sebelah. Sampai sekarang saya masih berpendapat kalo dua kejadian itu dirancang. Terlebih untuk kasus kedua yang jelas-jelas ditembak rudal, apa kata pemimpin-pemimpin negara di dunia? Sependek bela sungkawa aja. Khawatir kalo teriak keras-keras. Kepentingan minyak, katanya.

Rentetan tragedi ibaratnya berantai-rantai di berita. Dan sebagian besarnya karena manusia. Korbannya manusia juga. Sementara manusia yang punya kedudukan diam-diam saja. Kepentingan tingkat tinggi, katanya. Hubungan bilateral katanya.
Manusia, katanya. 

So I could ask myself really what is goin’ wrong
In this world that we livin’ in people keep on givin’ in
Makin’ wrong decisions, only visions of them dividends
Not respectin’ each other, deny thy brother
A war is goin’ on but the reason’s undercover

The truth is kept secret, it’s swept under the rug
If you never know truth then you never know love
Where’s the love, y’all, come on (I don’t know)
Where’s the truth, y’all, come on (I don’t know)
Where’s the love, y’all

Nodame Cantabile Finale

Another beautiful echo has come to an end! Hiksu…

What are we really hungry for?
This might be the question we keep asking to ourselves and haunt us all along. Lucky for those who have discover it yet, but it son’t stop there. Finding the passion is merely open which narnia door we choose. As the door opens, we might walk on the path we know we choose. Maybe we never forget the reason, but we don’t always remember at the same time.

Then some other door open to say hi sometimes, teasing us upon the juicy offer, either to bring us to next level or to distract our way to the boulevard. 

That’s this season all about. Nodame, struggling with her piano study in Paris along with her Chiaki Sepai and fellas, is trying to find back all of her reasons she plays piano. Wrapped in vigor, jealousy, hesitation, optimism, hopelessness, the urge to runaway, and another deep exploration of emotions with the ridiculous spices through the plot. Then get your ears spoiled by the musical instrument play and orchestra.
Let’s enjoy, It’s available on youtube.

Storiette: Yvonne

It’s been a year since she ordered my own coffee recipe for the first time. It was a foggy day on June that the sun seemed so shy. I saw her passed through that entrance gate by scanning the commuting trip-card, then she just walked to my café straightly.

“Morning Yvonne, what’s your today’s coffee?” That was my every morning question upon her, since she would ordered any kind of coffee depended on her mood, or simply her needs. “Well, I need a quite strong coffee, Pras. I’ll have a long day meeting my clients. Huh..” she was not grumbling after all. I knew she didn’t, because she smiled, even she had her every morning in such that rush. Oh yes, we knew each others’ names. She was a rare kind of person, of woman. Which customer, especially woman,  would greet the shopman by his name?

January was my first month at work in this bloody-busy station. As a barista, I had to put my attention in every drop of my served coffee. I used to think that running a coffee shop like this in commuter train station wasn’t the best decision ever made. People merely want to sip high-qualified-and-expensive-coffee while sitting to the window, enjoying time with the music around, something that would never happen in a busy station like this. So I wonder, what the hell on my boss head when he decided to have his business here?

As the days went by, I found the answer. People were coming again and again, waiting for their next turn to get their cups. They enjoyed seeing me shaking or brewing their coffees, and served it right on their face. The show ended with the curves on my customers’ face: a satisfied smile. Yeah, I have that curve on my face of course. It’s not that I am the shopman. It’s because I’m glad to see my customers pleasure on my coffee.

Then a woman came and got confuse on what coffee to order. So I asked her what taste she wants, the strong one, the creamy one, or the light one. “Well then I want the light one, Pras.” I was surprised she addressed me my name. Oh sure, there was  a name tag pinned on my polo shirt. I glanced at the binder she held. “Ok. Your coffe will be served in a minute, Miss Dira.” I saw her confused eyes. Then she realized and showed me the binder. “It’s my client’s name. My name is right here.” She pointed at the end of the letter in her binder with her autograph: Yvonne L., Property Consultant. Then she smiled, and I did too.

“Ok Miss Yvonne, it’s your coffee.” she gave me some money while saying, “Thank’s, Pras.”
“You’re very welcome, Miss Yvonne.”
“Just call me Yvonne.”
I just replied her with smile, and she left, huddling into the throng  until I lost her from my sight.

“I suggest you to try our Espresso Macchiato. I’m sure it will keep you up along day.” I said it with a doubtless nod. “No, Pras. I need the stronger one. That coffee didn’t work on me last week.” Then she checked her watch as if the time was ready to catch her up.
“Well, the only stonger coffee than Espresso Macchiato is my own coffee”
She raised her head up and said, “I thought you make the coffee your own.”
“I do. But they’re not my recipes.”
“Ok, let me try yours.”
“You know, my boss would simply fire me if he knows me doing this. But I will treat you as my guest this time, not my customer.”
“Is it an ‘OK’?”
I just replied her with smile, as usual.

That was the last day I met her. I haven’t known if my coffee work on her or not. But at least, I treated her even just a cup. At least, she tried my own recipe even just once. I never know whether she’s out of town or just took another vehicle instead of commuter-line. That I no longer saw her, it hurt. I even had no idea why it hurt.

I ran my own coffee shop the following months. It’s merely a little café in a quiet alley near the downtown. And if you notice, Yvonne, I drew you on my café wall just if you see it by chance, you’ll find me.
And I’ll find you.  

imagePhoto taken on Jalan Braga, Bandung.

Read More