Bagi sebagian orang, jarak adalah ujian,hingga mereka berusaha sedemikian rupa untuk mengalahkan jarak. Bukankah karena alasan itu manusia menemukan pesawat dan internet?
Ada pelajaran yang dapat dipetik dari rentangan sebuah jarak. Kadang dengan pergi kau menjadi tau apa itu rumah, tak peduli seberapa sering kau ingin pergi dari rumah dulu. Kadang dengan jarak kau jadi tau apa itu rindu, yang membuatmu sadar siapa itu rumah. Kadang dengan jauh kau jadi tau siapa yang benar-benar dekat, sejauh apapun kau terpisah. Dan kadang di rentang-rentang itulah, kau tau bahwa kau mencintainya, sekesal apapun kau dibuatnya saat kau dekat.
Sementara bagi sebagian yang lain, jarak adalah zona aman. Ada sesuatu yang lebih baik dibiarkan dengan adanya sebuah jarak. Tidak semua di dunia ini harus bersama, kan? Seperti manusia yang tidak bisa memiliki semuanya. Seperti manusia yang harus tau kapan ia boleh memiliki sesuatu. Seperti manusia yang harus bisa belanjar mundur, alih-alih terus maju menghempas jarak. Tuhan bermaksud baik. Kadang Ia membuat jarak untuk menjauhkan sesuatu yang tidak baik untuk kita. Untuk apa bersusah?
Seperti yang kau bilang, jarak menjelma dalam rentangan ruang dan waktu. Lalu mana yang kau pilih? Berjalan menghempasnya atau mundur dan berpura-pura tidak tau?
E.E. Cummings
Then we have to find that someone for self and be that someone for others. Or maybe we can be that someone for each other.
But still, we have to be that someone for ourself.
Allah-lah yang paling tahu keadaan dan keinginan kita. Bahkan, saat kita sendiri bingung dengan keadaan yang meliputi kita dan banyaknya keinginan yang mengganggu pikiran kita. Kita saja yang seringkali tidak sabar dengan ketentuan-Nya. Atau, bisa jadi abai terhadap setiap “tanda” pengabulan-Nya. Permintaan kita berubah-ubah, tapi tidak istiqamah. Tetapi pengabulan-Nya selalu kita “tuntut” tunai. Doa kita perlakukan seperti sebuah garansi tanpa batas. Padahal, berulangnya doa tak berarti berturut-turut pengabulan. Allah Maha Mengetahui kebutuhan kita. Berserahlah…
-Al-Hikam, Untaian Hikmah Ibnu ‘Athaillah
Membaca buku ini rasanya pengen mengutip semuanya :”)
Aku datang ke bandara terlalu dini. Pagi itu kabut masih menggantung di bawah langit kota. Bulan masih terlihat, meski amat pucat. Jingga mulai merona di kaki langit sana. Bandara sudah sedikit ramai, terlihat lalu-lalang di sana-sini, sibuk sekali. Penerbanganku masih dua jam lagi. Terlalu dini untuk menyerahkan boarding pass dan menghabiskan waktu di ruang tunggu. Aku memutuskan untuk ke kafe kopi yang tak jauh dari tempat taksi menurunkanku semenit lalu.
“Selamat pagi, Pak.” sapa paramusaji dari balik meja layannya. Aku segera memesan secangkir kopi panas dan mengambil tempat duduk di kursi bergaya pantry: meja tinggi dengan kursi tinggi tanpa sandaran. Kopi itu masih mengepul, cangkir hitamnya menyamarkan kepekatan hitam kopi di dalamnya. Aku memandangi kopi itu lekat-lekat, sambil mengupas alasan kenapa aku ada di sini pagi ini. Tentu saja ini bukan pilihan mudah. Dua tahun bukan waktu yang singkat. Bagaimana jika ia tak mau menungguku?
Satu jam berlalu. Bandara beringsut ramai, langkah-langkah kaki itu terburu-buru oleh waktu. Aku yang tadinya sendiri mulai ditemani banyak pelanggan yang mendatangi kafe ini, mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Dalam hati aku sedikit menyesal memilih kopi hitam ini sebagai sarapan pagiku. Eropa bukanlah tempat yang dekat. Perjalanan belasan jam di udara akan sangat membosankan. Tentu saja aku lebih memilih tertidur pulas daripada memandangi langit dan awan sepanjang penerbangan. Lalu tiba-tiba cangkir hitam yang sama diletakkan perlahan persis di sebelah cangkirku, membuyarkan lamunanku tentang penerbangan nanti. Kepulan dari panasnya kopi masih merayap halus, berbeda dengan kopiku yang sudah dingin dan tinggal setengah cangkir. Aku menegakkan kepala. Rupanya itu kau.
“Kau penikmat kopi, kan?” tanyamu. Aku diam saja memandangimu, masih heran bagaimana kau bisa ada di sini, menemukanku di bandara seluas ini. Dan ya, aku sadar. Tak banyak kafe kopi di bandara ini. “Menurutmu, siapa penikmat kopi sesungguhnya? Mereka si penikmat kopi kualitas tinggi? Atau mereka yang bahkan tak dapat membedakan rasa kopi instan dan kopi mahal?” tanyamu, lalu mengangkat cangkir kopi sambil memiringkan kepala, dan meletakkanya lagi di piring kopinya. Tentu saja aku tau, kopi di cangkirku sama seperti kopi di cangkirmu, meski ini bukan kopi yang biasanya.
Seperti langit di luar, namanya Jingga. Ia mengenakan jeans dan kaus hitam panjang. Syal warna merah jambu dan putih tulang melilit longgar di lehernya. Rambutnya pendek, menggantung di atas bahu, semakin menguatkan kesan bahwa ia independen dan dinamis. Percakapan terkahir ini terdengar begitu samar di telingaku, yang sibuk dengan pikiranku sendiri sejak aku melihatnya tetiba duduk di hadapanku pagi ini.
“Sama seperti hujan. Menurutmu, siapa yang sebenarnya menyukai hujan? Mereka yang yang bilang suka hujan tapi tetap membuka payung? Atau mereka yang menari bersama hujan?” kamu mulai bertanya lagi, membuyarkan lamunanku yang sedang bergumul dengan pikiranku sendiri sambil menatapmu. Setelah menimang-nimang cangkir itu sambil berkontemplasi sejak tadi, kau memulai sesapan pertamamu. Aku yang hanya terdiam sejak tadi, mulai bicara. “Bagaimana dengan matahari? Kata orang matahari tidak pernah ingkar janji. Tapi orang-orang begitu takut dengan matahari, berpayung dan berteduh menghindar.” Aku memandangmu sayu. “Apa kau juga akan seperti orang-orang itu, menghindar dari matahari?” tanyaku lagi. Lalu kau menatapku sejenak, tatapan ragu. “Jika ya, kenapa kau ada di sini?” tanyaku lagi. Aku tau kau tidak butuh jawaban atas semua kontemplasimu itu. Kau hanya butuh diyakinkan, aku yakinkan.
Ia menyesap kopinya lagi, lalu tersenyum.
Beberapa hari ini perpustakaan terasa sepi. Berbeda sekali dengan sebulan lalu, ramai oleh mahasiswa tingkat akhir, apalagi di ruang skripsi dan tesis disimpan dalam rak-rak panjang. Aku berniat mampir sebentar, mencari bacaan untuk liburan. Jarang ada menyadari, perpustakaan ini menyimpan lebih banyak harta karun daripada yang pernah kukira. Aku tak perlu lagi memusingkan untuk memilih buku seperti yang sering terjadi di toko buku, tentu saja karena meminjam buku di perpustakaan itu gratis, kecuali jika kau telat mengembalikan. Aku langsung menuju ke blok kelima, tempat buku-buku marketing berada. Aku sedang menggeluti visual marketing, yang aku jadikan sebagai topik bahasan tugas akhirku. Ya, tugas akhirku. Aku pikir topik ini sangat sempurna, memadukan passionku di bidang seni grafis dan juga bisnis. Mengingat ini aku kembali antusias.
Namanya Bara. Aku melihat ia termenung di menara utara pada gedung kuliah kami, yang tak lain adalah perpustakaan ini. Sedang apa dia di sini? Bukankah dia baru saja lulus bulan lalu? Hari itu hujan. Ia setengah duduk pada jendela lebar yang menghadap ke taman di seberang gedung. “Bara?” sapaku. Ia menoleh, terlihat sangat sendu. “Eh, Rayya. Ngapain di sini?” mendadak raut wajahnya menjadi cerah. Sesuai namanya, ia tipe orang yang selalu bersemangat. Jarang sekali aku bisa melihat Bara yang sedang termenung seperti ini. “Gue bisa nanya hal yang sama, lu kan udah lulus, Bar.” Kataku sambil nyengir. Ia tertawa kecil, lalu raut wajahnya kembali sendu seraya memandangi selembar amplop yang digenggamnya.
Tisch School of the Arts. Tulisan itu tertera di pojok kanan atas amplop. Sekolah film paling bergengsi kelas dunia dan tentu saja berlokasi di kota yang tak pernah tidur itu, New York. Aku memandangnya ragu. “Lu mau ngelanjutin ke sana, Bar? Waah, ga ngerti lagi gue.” ucapku kagum dan setengah bercanda. Bara tersenyum. Bukan, bukan senyum ceria seperti biasanya. “Gue dapet beasiswa ke sana. Jurusan film, Ray.” Sejenak air mukanya berubah cerah. ”Tiket keberangkatan ke sana udah dikirim, besok lusa.” Katanya, dengan mata yang kembali sayu. Aku diam. Hujan di luar masih turun dengan deras. Ia lalu memandang jauh keluar jendela. “Lu pasti tau kan Ray gue anak tunggal.” Ia memberi jeda, tapi aku tau jeda ini bukan karena ia menunggu jawabanku. Aku tau ia tak membutuhkan itu. Retorika.
Tentu saja aku tau. Siapa coba yang tak tau. Bara Laksmana Wijaya, anak semata wayang dari keluarga Wijaya, pemilik perusahaan bisnis multimedimensi terkemuka di Asia. Sebagai anak tunggal, keluarganya pasti menaruh harapan besar padanya. Dan tak dapat dipungkiri, ialah pewaris tunggal dari perusahaan besar tersebut. Aku bukan anak kemarin sore yang baru saja mengena Bara. Selama ini kami sering bekerja dalam proyek yang sama, di bidang visual marketing tentunya. Ia akan senang sekali membuat alur cerita untuk memasarkan produk tertentu, sekaligus menjadi sutradara di balik kamera. Tak jarang pula ia membuat film-film pendek bersama teman-temannya di unit kegiatan mahasiswa. Aku tau dia begitu menyukai dunia film. Aku tau ia sutradara andal. Dan aku juga tau ia pewaris tunggal dari kerajaan Wijaya. Masa depan Bara seolah sudah ditentukan sejak ia dilahirkan di tengah keluarga itu. Dalam diam, aku memahami alasan di balik kesenduannya hari ini.
“Apa memilih jalan yang berbeda ini menjadikan gue anak durhaka, Ray?” tanyanya. Genggaman pada surat di tangannya kini lebih erat. Aku memandang keluar jendela, masih hujan.

Iman tingkat tinggi !
(via kurniawangunadi)
(Source: ridhaninggar)
“With great power, comes great resposibility.”
Uncle Ben (Spiderman, 2002)
Uncle Ben mungkin waktu itu punya firasat kalau keponakannya, Peter Parker, akan menjadi orang besar. Power dalam film Spiderman bisa diartikan sebagai power yang sebenarnya: semacam kekuatan super yang menjadi modal utama untuk seorang superhero! Tapi saya memandang power ini lebih dalam: sebuah kepercayaan/amanah yang datang pada wartawan culun dan minder bernama belakang Parker. Lantas mengapa amanah sebesar itu datang kepada Parker?
Ya, kita semua pasti tahu, Parker mendapatkan kekuatan superheronya karena sebuah kecelakaan: digigit laba-laba hasil mutasi saat meliput di labratorium terbuka. Tidak ada seleksi formal seperti pemilu memang, tapi pasti ada alasan di balik terpilihnya Parker, dan ia membuktikan ia pantas mendapatkannya selama film seri Spiderman ini berlanjut.
Amanah pasti datang karena suatu alasan. Ketika amanah itu datang, berarti kita telah dipercaya untuk dapat melakukan sesuatu yang diamanahkan dengan baik, bukan untuk disalahgunakan. Parker membuktikan itu. Setelah aksi balas dendam kepada pembunuh Uncle Ben, ia sadar bahwa kekuatan super yang ia miliki bukan datang untuk digunakan balas dendam semata. Ia sadar masyarakat New York membutuhkannya, dan ia melakukan itu.
Secara harfiah, amanah juga dapat diartikan sebagai kepercayaan. Menerima amanah bukan soal mudah. Menerima berarti menyanggupi bahwa amanah tersebut harus dijaga sebaik-baiknya, jangan sampai hilang atau rusak. Menerima amanah tanpa berusaha melakukannya dengan baik, maka sama saja dengan mengabaikannya. Mungkin kita masih ingat beberapa adegan saat Parker tidak tanggung-tanggung membahayakan keselamatannya sendiri demi menyelamatkan orang lain. Kepentingan dramatisasi film memang, tapi adegan ini makin memperkuat pesan di film pertama Spiderman seperti yang saya kutip di atas :)
Saat kita sedang dipercaya untuk melakukan beberapa hal, mungkin akan ada waktu saat kita merasa harus memprioritaskan satu di atas yang lain. Tapi tentu saja hal itu tidak dapat menjadi alasan untuk tidak menunaikan kesemuanya dengan baik. “Ketika kita menerima suatu amanah, maka jangan mendzalimi amanah yang lain. Kuncinya adalah memperbesar kapasitas kita. ” Romi Ardiansyah. Parker seringkali harus berubah menjadi Spiderman saat ia sedang berada dalam waktu kerjanya. Panggilan itu tidak datang di saat kita ingin, tetapi di saat kita dibutuhkan.
Menjadi spiderman memang tidak mudah. Tapi kita tidak harus digigit laba-laba mutasi dan menjadi spiderman untuk dapat melakukan amanah dengan baik. Ada pelajaran-pelajaran dalam spiderman yang sebenarnya bisa kita teladani. Kalau sekadar mempraktikan pelajaran-pelajaran itu, tidak terlalu susah kan? :)
Kentlands, Maryland
Kentlands, designed in 1988, is a 352-acre new urbanist community in Gaithersburg, MD located 23 miles southwest of Washington, D.C. As one of the most mature and complete examples of the first generation of new urbanism, Kentlands uses common sense but highly effective environmental and urban design techniques to prove the viability of sustainable urban growth in the larger region.
I had the pleasure of living in this planned community for 5 years growing up and it still remains the foundation and basis for my interest in urban planning and design. Crazy how the neighborhood you grow up in can subtly do things like that.
“…one of the most mature and complete examples of the first generation of new urbanism,..” Wow!
Kita semua pasti setuju jika Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Dari Sabang hingga Merauke, bukan hanya pulau-pulau yang berjajar, tetapi juga adat istiadat, bahasa, artefak, juga kerajinan budaya. Tetapi masih pantaskan Indonesia disebut sebagai negara yang berbudaya?
Selama ini mindset kita terhadap budaya masih terpaku pada produk-produk budayanya, dan cenderung mengabaikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Padahal nilai sebenarnya dari sebuah budaya ada pada filsafat yang dibawanya. Batik misalnya, sering dianggap sebagai produk budaya kebanggaan Indonesia yang terjelma dalam dunia dunia mode. Tapi mungkin banyak yang belum mengetahui filsafat di balik pembuatan batik yang diturunkan oleh nenek moyang kita, seperti kesabaran dan ketelatenan dalam pembuatannya. Pada tradisi Jawa, perempuan diharuskan untuk dapat membatik agar nilai kesabaran dan ketelatenan tersebut dapat dimiliki dan diaplikasikan perempuan dalam keseharian dan kehidupan berrumah tangganya. Maka tak heran apabila perempuan Jawa memiliki stereotipyang lembut dan anggun. Begitu pun budaya-budaya lainnya yang juga pasti memiliki nilai tersendiri yang akan diwariskan.
Kini kita telah masuk pada era globalisasi, era ketika jarak dan waktu semakin dibuat tak berarti sekaligus dibuat menjadi lebih lebar. Era ini tercermin dari majunya teknologi yang begitu pesat. Selain itu, majunya era ini tercermin pula pada konsep tata ruang yang banyak berkembang di perkotaan saat ini, yaitu banyaknya gedung-gedung bertingkat, perumahan vertikal, jalan raya dan jalan layang, serta ruang interkasi publik yang dikomersilkan. Dunia seolah dibuat menjadi begitu praktis dan minimalis demi kemudahan tercapainya pemenuhan kebutuhan masyarakat. Apa konsekuensinya terhadap budaya?
Budaya bukanlah sesuatu yang dibentuk dalam sekejap, bukan pula sesuatu yang dapat dibentuk oleh individu seorang. Proses pembentukan budaya membutuhkan waktu dan penyepakatan persepsi bersama terhadap suatu kebiasaan tertentu. Di zaman globalisasi ini, gaya hidup modern berkembang begitu cepat dan tak menutup kemungkinan akan segera menjadi budaya baru terutama bagi masyarakat urban. Budaya lama kian tergerus putaran waktu, dan bukan tak mungkin suatu saat nanti akan dilupakan.
Gaya hidup yang berkembang saat ini adalah konsekuensi dari segala kemajuan teknologi serta adaptasi tata ruang yang mendukung kepraktisan dan kemudahan akses, baik informasi maupun lokasi. Akibatnya, budaya baru yang tebentuk adalah budaya yang pragmatis dan cenderung indivisualistis. Pembangunan jalan raya dan jalan layang yang kian gencar misalnya, menimbulkan budaya otomatisasi yang tinggi, serta penggunaan kendaraan bermotor yang terus meningkat tanpa diimbangi dengan penyediaan jalur pedestrian yang memadai. Jalur sepeda yang dibuat pun tak mampu menarik minat masyarakat untuk bersepeda. Budaya otomasisasi akibat pembangunan yang timpang ini berdampak pada banyaknya kendaraan bermotor yang memadati jalan dan berujung pada kemacetan. Kita tentu tak akan mengelak jika kemaetan menimbulkan berbagai kerugian, mulai dari kerugian materi, kerugian waktu, kerugian BBM yang terbuang percuma saat macet, dan kerugian akibat menurunnya kondisi psikologis masyarakat akibat kemacetan ini. Tata ruang yang tidak baik menimbulkan gaya hidup yang tidak baik pula. Jika gaya hidup seperti ini terus bertahan, bukan tidak mungkin hal ini menjadi budaya yang sukar ditinggalkan dan berdampak pada peradaban manusia yang sakit.
Namun demikian, bukan berarti budaya tidak dapat diubah. Tata ruang memengaruhi perilaku manusia. Budaya yang baik dapat diciptakan dengan tata ruang yang baik pula. Merujuk pada contoh di atas, hal tersebut dapat dilakukan dengan penyediaan jalur pedestrian dan jalur sepeda yang dapat menimbulkan budaya transportasi ramah lingkungan, penyediaan ruang publik sebagai tempat interaksi bagi masyarakat, hingga budaya masyarakat Indonesia yang suka berkumpul dapat diakomodasi dengan adanya ruang terbuka di depan rumah sebagai tempat interaksi dengan para tetangga. Peran perencana wilayah dan kota dan pemerintahan yang bijak diperlukan guna mencapai tata ruang yang berbudaya ini.

Siapa coba yang tega buang sampah sembarangan kalo suasananya apik kaya gini? Hehehe..
Menciptakan budaya baru tidak berarti harus menghapus budaya yang lama. Budaya adalah ciri khas suatu bangsa juga peradaban yang selayaknya dijaga melintasi zaman dan dijiwai filsafat yang terkandung di dalamnya. Pada hakikatnya, budaya adalah soal memanusiakan manusia. Maka wajib bagi kita, kaum muda, menciptakan budaya baru yang adaptif terhadap perubahan zaman dan terus menjaga budaya baik yang telah ada serta menularkannya pada masyakarat dengan segala kapasitas yang kita miliki.
Doodle your ideas! Karena ide suka terbang-terbang kalau tidak segera dicatat. Semoga tidak sekadar menjadi wacana :D
Terkadang menjadi pasif tidak selalu buruk. Pada hakikatnya manusia selalu menuju pada keseimbangan, termasuk menjadi pasif untuk mengimbangi keaktifan di sekitarnya.
Seperti kemampuan mengabaikan yang kadang lebih penting dari kemampuan memerhatikan.
Seperti menyembunyikan yang kadang lebih penting dari memperlihatkan.
seperti mengalah yang kadang lebih penting dari mengalahkan.
Seperti diam yang kadang lebih penting dari berbicara.
Seperti mendengar yang kadang lebih penting dari didengar.
Seperti kebersediaan untuk dipimpin yang kadang lebih penting dari memimpin.
Seperti kebersediaan untuk dirangkul yang kadang lebih lebih penting dari merangkul.
Seperti jeda yang kadang lebih baik dari terus berlari.
Seperti memahami yang kadang lebih penting dari dipahami.
Seperti menghargai yang kadang lebih penting dari dihargai.
Dan seperti kita yang sering kali lebih penting dari aku.
Semua itu soal peran yang tepat di saat yang tepat, dengan ego yang tepat pula. Memang tidak mungkin menyenangkan semua pihak. Jadi mari saling mengerti :)
Juan Pablo Montoya on Kimi Räikkönen - “Kimi is unique. He’s not faking. Fantastically intelligent, he will prefer to leave you in the belief that he is as dumb as a shoe, because he knows that then you will probably leave him alone. The category of pride doesn’t exist in his mind-set. But he is the fastest driver I ever saw. In those rare times I did beat him, I knew I could go out of that hysteria called Formula 1, and know that I did something.”
(Source: sammathnaur)
“mum I’m moving to finland” “okay”
So many things about this that any public school teacher could tell you.
- Kids need recess
- Standardized testing accomplishes nothing, especially when they have to take 4-5 a year
- Individualized attention from teachers is necessary
- SpEd and EBD students do better behavior-wise when their integrated into mainstream classrooms.
But is the government listening?
I say this every time this Finland meme comes up and finally someone on the Atlantic agrees with me.
The reason why this works there and not here (or any place with a non homogenous population) is bc colonizers have no interest in educating the “other” or consider them equals that deserve unfettered access to education. This is why private schools exist. Ppl did not want their kids educated alongside people who they viewed beneath them.
That inequality conversation needs to be addressed first before any progress happens.
^^^^^^^^^
worth to share
Indonesia teacher student ratio is 1 to 40~